Hantu TikTok. “Dra ... Dra, liat deh,” ucapku pada Hendra yang lagi menatap layar ponsel. “Apaan, Mir?” balasnya. “Itu, liat ke sana!” Aku menunjuk ke arah jalan raya di samping taman. “Wanjrit, apaan itu. Hahaha ....” Hendra tertawa kencang. “Lu pada ngomongin apa sih?” tanya Wildan. “Biasa nge-ghibahin setan,” balasku. “Hadeh, kebiasaan,” ucap Wildan lalu kembali sibuk dengan ponselnya. “Kok itu setan aneh sih, Mir? Masa jalannya mundur.” “Coba tanyain aja langsung, kenapa jalannya mundur.” “Ogah.” “Dan, lu mau kenalan gak sama setannya?” tanyaku. “Nehi, ntar gw dikerjain lagi. Kemaren aja gw ampe gak bisa tidur, gara-gara setan cewe yang nyariin emaknya.” “Ya ampun, masih diinget aja.” “Ya gimana gak inget, orang tu setan duduk di kasur ampe subuh.” “Siapa, Dan? Si Masni ya? Kan cantik itu.” “Gak usah disebutin juga namanya, HENDRA! Ntar dia datang.” Selagi Wildan dan Hendra ribut, aku coba memanggil hantu itu. Soalnya penasaran juga, kenapa dia berjalan mundur. “Duh, dianya gak mau,” keluhku. “Si Setan Mundur?” tanya Hendra. “Iya, dia gak mau ngedeket. Apa coba di mediasi aja.” “Terus siapa yang mau mediasi?” tanya Hendra. “Ya lu, Hen.” “Ih, males banget liat bentukannya begitu. Kaya lelaki tulang lunak.” “Ayolah, demi Wildan. Biar dia bisa denger juga.” “KOK GW?” balas Wildan ngegas. “Oke deh.” Hendra pun setuju. Dengan cepat, hantu itu kutarik paksa, masuk ke dalam tubuh Hendra. “Loh ... hahahaha.” Wildan tertawa melihat Hendra tiba-tiba berdiri dan berjalan mundur. “Tahan lah, Dan! Lu malah nontonin doang.” Aku dan Wildan berusaha menahan tubuh Hendra. “Dra, jangan diikutin kemauannya. Lawan aja,” ucapku. Tidak lama kemudian, Hendra sudah berhenti jalan mundur. * “Iiiihh, apaan sih! Ganggu guweh aja,” ucap Hantu yang ada di tubuh Hendra. “Jangan jalan mundur terus, Mas. Nanti temen gw nyemplung ke kolam,” balasku. “Abieznya, guweh lagi maen TikTok malah lu tarik ke sini.” “Coba tanyain gih, Dan. Sensi kayanya ni setan ma gw,” ucapku. “Setan? Pala lo setan!” balas Si Hantu. “Mas, kenapa jalannya mundur?” tanya Wildan lembut. “Ih beib, kan akuh lagi rekam video TikTok,” balasnya. “Tuhkan, ke lu cara ngomongnya beda,” ucapku. “Apaan sih LO! Ganggu ih,” balas Hantu itu masih ngegas. “Akuh juga gak tau beib, kenapa begini. Terakhir kali aku lagi bikin video TikTok di deket lampu merah. Eh, tiba-tiba gelap,” jelasnya sambil menatap ke arah Wildan. “Tanya namanya, Dan!” bisikku. “Nama kamu siapa?” tanya Wildan. “Orang-orang sih panggil akuh Nayla,” balasnya manja. “Nama asli, woi! Pan lu cowo,” ucapku kesal. “Siapa sih lu, daritadi ganggu aje!” “Nama aslinya siapa?” tanya Wildan. “Ih akuh tuh, malu.” “Gak usah malu.” “Sunarya,” balasnya sambil senyum-senyum manja. “Ya Allah, jauh banget. Nyesel gw narik dia,” gumamku pelan. Daripada pusing lihat kelakuan tuh makhluk. Aku mulai fokus, coba melihat flashbacknya. Malam hari, Sunarya bersama teman-temannya lagi nongkrong di dekat lampu merah. Mereka mengobrol sambil bercanda. Entah darimana dia memiliki ide untuk membuat video TikTok yang sedang viral. Dengan sigap, Sunarya menyuruh teman-temannya untuk berbaris. Sedangkan dia berada agak di depan, menghadap barisan sambil memegang ponsel. Satu teman lainnya merekam dari arah samping. Mulai lah, mereka melakukan aksinya. Berjalan agak membungkuk dengan pinggul bergoyang ke kiri dan kanan, sambil menyebrangi jalan. Tiba-tiba ada sepeda motor melaju dengan kencang. Saking asiknya berlenggak-lenggok sambil mundur, Sunarya tidak sadar kalau sepeda motor itu mengarah padanya. “Nayla, awas!” teriak teman-temannya. Harusnya itu menjadi momen mengharukan, tapi setiap kali mendengar nama itu aku selalu ingin tertawa. Duag! Motor itu menabrak Sunarya. Tubuhnya terpelanting, hingga kepalanya mendarat di trotoar. Seketika itu, dia langsung menghebuskan nafas terakhir. * “Aduh pusing,” keluh Sunarya yang masih ada di tubuh Hendra. “Kenapa?” tanya Wildan. “Kepala aku pusing banget beib,” balasnya sambil memegang kepala. “Ya pusing pasti, orang kepalanya kejedot trotoar,” selaku. “Bantuin dong,” ucapnya memelas ke arahku. “Dih, tadi ngegas sekarang malah memelas.” “Liat nih, netes terus,” ucapnya sambil menunjukan luka menganga di kepalanya. “Ini apa sih, lembek-lembek,” sambungnya sambil memasukan jari ke luka itu. “Itu otak lu. Pantesan gesrek, otaknya bocor,” ledekku. “Jahat ih, bantuin dong,” pintanya lagi. “Gak! Dah ... dah, pergi sana!” “Tadi dipanggil, sekarang diusir.” “Sana keluar, kasian itu temen gw.” “Setel lagu dulu baru akuh keluar.” “Lagu apaan?” “Lagu TikTok lah, gak gaul banget sih.” “Coba lu cek, Dan. Gw gak ada aplikasinya.” Wildan langsung membuka aplikasi TikTok. “Yang mana?” tanya Wildan. “Itu yang biasa dipake buat orang baris sambil mundur-mundur,” balasku. “Oh ya, yang ini.” Tu ut tu ut Tu ut tut .... Wildan memutar lagu TikTok. “Inikan?” tanya Wildan ke Sunarya. “Iya, Beib. Makasih.” * “Tuh, Dan. Pelajaran buat lu, kalau bikin video TikTok jangan yang aneh-aneh,” ucapku sambil menghadap ke Wildan. “Gw gak pernah bikin yang begituan, Mir.” “Lah terus biasanya ngapain?” “Bikin TUTORIAL HIJAB. Puas lu?” “Dih emosi dia, Hen.” Aku menoleh ke kanan, tetapi Hendra sudah tidak ada. “Wah kemana dia?” “Itu, Mir. Lagi jalan mundur.” Spontan kami berlari mengejarnya. Sayang sudah terlambat. Byur! Hendra pun tercebur ke kolam. “Mampus dah kita, Dan,” bisikku pada Wildan sambil berdiri mematung. Hendra pun tersadar dan berkata, “AMIR ... WILDAN ... AWAS LO YA!” SEKIAN
Jumat, 06 Agustus 2021
Nasi Goreng Berdarah
Nasi Goreng Berdarah. “Mir ... lu laper gak?” tanya Wildan yang sedang memegang kemudi mobil. “Laper.” Selama perjalanan dari Cirebon ke Karawang, kami memang belum makan. Cemilan di mobil pun sudah raib, masuk ke dalam perut. “Malem-malem begini mau makan dimana?” tanyaku. “Cari yang di pinggir jalan aja.” “Pecel ayam, sate atau nasi goreng?” tanyaku sambil melihat ke luar mobil. “Nasi goreng aja deh.” “Sip.” Aku edarkan pandangan, mencari tukang nasi goreng terdekat. “Tuh ... ada tukang nasi goreng.” “Mana?” “Di kiri, deket pohon beringin.” Wildan pun mengarahkan mobilnya ke sana. Lalu, memarkirkan mobilnya di bawah pohon beringin. Aku lebih dulu keluar dari mobil, mencari tempat duduk. Sedangkan Wildan, berjalan menghampiri gerobak untuk memesan nasi goreng. “Mir ... pedes gak?” teriak Wildan yang sedang berdiri di samping gerobak nasi goreng. “Pedes,” sahutku. Setelah memesan, Wildan duduk di sampingku. Kami pun mengobrol-ngobrol sebentar, sambil menunggu pesanan datang. * Tidak terlalu menunggu lama. Dua piring nasi goreng sudah tersedia di hadapan kami. Ya ... memang sedang tidak ada pembeli, selain kami. Wildan langsung menyantapnya dengan lahap, sedangkan aku masih belum mau menyentuhnya. “Ini nasi gorengnya kok merah?” tanyaku bingung, sambil menatap nasi goreng di hadapanku. “Merah?” “Iya.” “Gak ah, normal-normal aja,” balas Wildan sambil menyantap nasi goreng. Bau amis menyeruak, menusuk hidungku. Aku mengendus-endus, mencari sumber bau tersebut. Hue! Mual, spontan tanganku menutup mulut dan hidung, agar tidak muntah. Sekarang aku sudah tau, baunya berasal dari nasi goreng itu. “Napa sih lu nutup mulut gitu? Lagian bukannya dimakan malas diendus-endus doang.” “Perut gw gak enak, mual,” balasku masih menutup hidung dan mulut dengan tangan. “Ya udah gw makan aja dah, mubazir tau.” “Jangan!” “Kasian tau, udah dibikinin gak dimakan,” ucapnya sambil menggeser piringku ke dekatnya. Aku terus menatap piring yang dimakan Wildan. Warnanya tidak berubah, masih merah. “Astagfirullah,” ucapku ketika melihat potongan ayamnya berubah menjadi potongan jari dan telinga. “Napa, Mir?” tanya Wildan heran. “Udah jangan dimakan.” Aku langsung merebut piringku dan membuang nasi gorengnya ke tanah. Benar dugaanku, nasinya kini berubah menjadi belatung-belantung kecil. “Nanti gw ceritain dah. Sekarang lu balik ke mobil aja, biar gw yang bayar.” “Beuh tumben baik.” Wildan pun kembali ke mobil, sedangkan aku mau berhadapan langsung dengan si penjual nasi goreng. * “Nasi gorengnya enak, Dek?” tanya tukang nasi goreng yang berdiri membelakangiku. “Enak, Pak.” “Jangan bohong,” ucap Bapak itu membalikan badannya. Wajahnya hancur. Matanya keluar menggantung di pipi. Rahang bawahnya sudah tak berbentuk, dengan darah yang terus menetes. Aku sempat kaget dan mundur satu langkah. Perlahan kutatap wajahnya, ternyata tidak se-menyeramkan makhluk-makhluk yang pernah kutemui. Tiba-tiba, aku mendapatkan ‘flashback’. Seorang bapak sedang melintas rel kereta api, sambil mendorong gerobaknya. Kereta api pun datang. Lalu, menyambar tubuh dan gerobaknya dengan cepat. “Sakit, Dek ...,” ucap Bapak itu lirih. “Salah bapak sendiri, nyebrang gak liat-liat.” “Tolong ... sakit, Dek ....” “Gak!” ucapku, lalu membalikan badan dan kembali ke mobil. “Sudah tau lagi lapar, malah dikasih begituan,” keluhku kesal. Baru saja mau membuka pintu mobil. Terdengar seseorang menertawaiku. Aku tengok ke atas pohon beringin. Si Kingkong, salah satu penjagaku, sedang nangkring di salah satu dahan pohon. “Oh gitu ... jail ya ... liat aja aku laporin ke Kakek,” ucapku dalam hati. “Mangkanya ... fokus, Mir, fokus ...,” balasnya lalu tertawa. “Orang lapar disuruh fokus.” Aku pun langsung masuk ke dalam mobil. * “Berapa Mir?” tanya Wildan yang sedang menghidupkan mobil. “Gratis!” balasku agak ketus, gara-gara masih kesal dengan ulah Si Kingkong. “Biasa aja kali, gitu amat.” “Mending buruan balik dah.” “Iya ... iya ... sabar.” Mobil sudah menjauh dari tempat itu. “Mir ... Mir,” panggil Wildan. “Apa?” “Diem aja lu.” “Perut gw lagi gak enak banget nih.” “Salah sendiri tadi gak makan, malah dibuang.” “Emang enak banget ya?” tanyaku sambil tersenyum licik. “Enak kok.” “Kenyang?” “Iya.” Aku pun tertawa puas sekali. SEKIAN
Selasa, 03 Agustus 2021
Boneka Mampang di Taman Rumah Sakit
Boneka Mampang di Taman Rumah Sakit
Sstt!
Sstt!
Amir ....
“Apaan sih, Hen.”
“Dih ... kok lu tau sih!” Kepala Hendra muncul dari balik pintu.
“Ya tau lah, kan gak mungkin Wildan juga.”
“Heeh. Ngomong-ngomong lu udah ngejenguk Wildan?” tanya Hendra, sembari masuk ke kamarku dan tiduran di kasur.
“Belom, kan lu bilang besok siang. Gimana sih? Masih muda udah pikun.”
“Argh! Lu kagak ngerti kode dari gw.”
“Maksudnya?”
“Gak usah besok, sekarang aja yuk!”
“Idih ... sekarang udah jam 7 malem, Hendra! Ngapain ke rumah sakit malem-malem.”
“Ya sekalian itu.”
“Oohhh ... gw paham. Lama-lama lu stress juga ya, nyari begituan mulu. Entar giliran diikutin sampe kosan, teriak-teriak minta tolong.”
“Hahaha, namanya juga anak baru, Mir. Masih penasaran lah sama ‘mereka’. Yuk, cabut sekarang. Sekalian kita nginep nemenin Wildan. Katanya dia sendirian doang, kasian.”
“Gw masih baca Slide Kuliah ini, Hen,” ucapku sambil menatap layar laptop.
“Bawa aja laptopnya ke rumah sakit. Baca di sana!”
“Ni anak maksa banget dah.”
“Yuk! Yuk!” Hendra mengangkat alisnya sambil tersenyum.
“Jijik, Hen! Gw mau, asal pake motor lu. Kan lu yang ngajak.”
“Beres kalau itu sih. Gw tunggu di depan ya.” Hendra bangkit dari kasur dan ke luar kamar.
Aku ganti baju dan memasukan laptop ke dalam tas. Setelah itu, pergi ke parkiran motor. Hendra sudah menyalakan motornya.
“Gerak cepet amat lu, Hen.”
“Wooh, iya dong.”
“Yuk! Cepetan, ntar kemaleman.” Aku naik ke atas motor. Hendra pun langsung memacu sepeda motornya.
Sebenarnya jarak dari kosan ke rumah sakit lumayan jauh. Kira-kira butuh waktu 45 menit, jika menggunakan sepeda motor. Hanya saja, hasrat Hendra untuk berkenalan dengan ‘Penghuni Rumah Sakit’ sudah tak terbendung lagi. Begitulah sifatnya, semenjak bisa melihat ‘mereka’.
“Biasanya di rumah sakit ada apaan aja, Mir?” tanyanya sedikit berteriak, karena suaranya hampir tenggelam dalam hembusan angin yang kencang.
“Banyak lah, Hen,” balasku ikut berteriak.
“Contohnya?”
“Nanti juga lu liat sendiri! Yang penting sekarang konsen bawa motornya.”
“Siap, Bos!”
Jujur saja aku deg-degan melihatnya mengendari motor dengan cepat dan mata batin terbuka. Khawatir akan terjadi benturan dengan ‘mereka’ yang tidak sengaja lewat atau menyebrang. Bisa-bisa dia kaget dan malah bikin celaka. Jadi saja aku harus menugaskan Si Tebo untuk mengamankan jalan. Dari ‘Wanita-Wanita Centil’ yang hobi mondar-mondar di jalan.
*
Kurang dari setengah jam, kami sudah sampai di depan rumah sakit. Lumayan cepat, mungkin karena Hendra memacu sepeda motor seperti orang kesetanan. Didukung dengan jalan yang agak sepi.
“Lu tunggu di sini dulu ya! Gw parkir bentaran.” Hendra menurunkanku di depan lobi rumah sakit.
Tak lama, Hendra sudah kembali dari parkiran.
“Yuk, masuk! Anggap aja rumah sendiri.”
Aku hanya bisa mengerutkan dahi. Mungkin temanku ini perlu dirawat di rumah sakit juga. Rumah Sakit Jiwa.
“Lu tau kamarnya emang, Hen?”
“Bentar gw liat di Whatsapp.” Hendra mengambil ponsel di kantong jaketnya.
“Kamar Raflesia, nomer 8,” ucap Hendra sembari menatap layar ponsel.
Aku berjalan menghampiri satpam yang berdiri di lobi. Menanyakan di mana letak Kamar Raflesia.
“Ke sana katanya, Hen. Lurus terus tinggal belok kiri.” Aku menunjuk sebuah lorong panjang di samping kanan.
“Sip, lu jalan duluan, Mir!”
“Takut?”
“Gw suka kaget kalau ada yang tiba-tiba nongol.”
Kami pun menyusuri lorong panjang. Kemudian berbelok ke kiri tepat di ujung lorong. Di hadapan kami sudah ada selasar yang tidak kalah panjang. Kata satpam tadi, ruangan tempat Wildan dirawat berada di ujung selasar. Aku pun lanjut berjalan.
“Mir ....”
“Apa, Hen?”
“Mir ....” Hendra menarik bajuku.
“Apa sih, Hen? Narik-narik baju segala.”
“Lu kagak liat?”
“Liat kok! Badan lu segitu gedenya mana mungkin gak keliatan.”
“Bukan gw, Amir!”
“Lah terus?”
“Itu bocah-bocah yang lagi lari-lari di taman.” Hendra menunjuk ke arah taman di samping kiri.
“Kagak liat, Hen.”
“Ah lu curang, bisa buka tutup mata batin. Lah gw kagak bisa.”
“Yang ngajak ke rumah sakit malem-malem siapa?”
“Gw.”
“Nah, salah sendiri berarti.”
“Asli, Mir. Lu liat dah, aneh.”
“Dah cuekin aja, Hen.” Aku lanjut berjalan.
“Lu liat dulu, itu kok bocah-bocah ada yang kepalanya gede banget.”
Aku pun penasaran. Kuhentikan langkah, lalu melirik ke arah taman. Benar apa yang dikatakan Hendra. Ada banyak anak-anak sedang berlari mengitari taman. Bentuknya memang aneh-aneh. Ada yang kepalanya besar. Tangannya besar sebelah. Kakinya panjang sebelah. Ada juga yang sangat pendek, berbadan gemuk tanpa leher.
“Udah liat? Itu apa, Mir?”
“Gw juga kagak tau, Hen. Dah yuk, buruan.” Aku kembali berjalanan menyusuri selesar rumah sakit. Hendra masih mengikuti dari belakang.
Di ujung selasar, aku kembali menghentikan langkah.
“Gw bilang juga cuekin, Hen,” ucapku sambil menoleh pada Hendra.
“Udah gw cuekin kok, Mir,” elaknya.
“Tapi kok, mereka malah ngikutin kita.”
Hendra celingak-celinguk, “Kagak ada!”
“Noh, di balik semak-semak, pada ngumpet.” Aku mengarahkan pandangan ke semak-semak yang tidak jauh dari tempat kami berdiri.
“Masa sih?”
“Matanya merah gitu masa kagak keliatan.”
“Eh iya. Terus gimana?”
“Bentar deh.”
Aku memanggil Si Tebo. Memintanya untuk menjaga anak-anak itu agar tidak mengikuti kami sampai ke kamar Wildan.
“Beres, yuk!” ucapku ketika melihat Si Tebo berhasil menakuti anak-anak itu.
*
Tibalah, kami di depan kamar Wildan.
“Assalamualaikum ...,” ucapku sambil membuka pintu kamarnya. Sebuah kamar kelas satu yang cukup besar.
Wildan nampak kaget dengan kehadiran kami berdua.
“Ngapain lu berdua ke sini malem-malem?” tanyanya heran.
“Si Hendra yang ngajak, Dan,” balasku.
“Iya, Dan. Sekalian gw liat-liat penghuni sini kalau malem.”
“Hen. Plis banget dah. Gak usah ngomongin begituan. Gw masih perlu beberapa hari lagi ‘bed rest’ di sini.”
“Lagian lu demen amat tidur di rumah sakit lama-lama,” balas Hendra.
“Mau gimana lagi, kata dokternya begitu.”
“Ah bilang aja lu betah karna ada cewe yang nemenin kan?”
“Cewek apaan sih, Hen?”
“Tuh ‘Cewek Cantik’ rambut gimbal di kamar mandi.”
“Dibilang gak usah ngomong begituan.”
“Tau tuh, Hendra. Sok tau banget, padahal itu Nenek-Nenek masa dibilang Cewek Cantik.”
“Lu juga, Amirudin. Sekali lagi ngomongin begituan gw sumpel pake botol infus.”
“Eh, dia ngilang, Mir. Malu kali diomongin.”
“HEN!”
“Ada noh di atas,” ucapku sambil menatap sosok nenek berambut gimbal yang merayap di langit-langit.
“MIR! Gw beneran nih,” ancam Wildan.
“Dijenguk kalian, bukannya sembuh malah tambah sakit,” sambung Wildan.
“Ya maaf, Dan. Dah gw duduk aja ah,” ucapku seraya duduk di sofa panjang. Diikuti Hendra yang duduk di sampingku.
Aku mengeluarkan laptop dari tas. Dan kembali membaca Slide Kuliah.
“Mir, udah tau belum tuh bocah-bocah makhluk apaan?” bisik Hendra.
“Belum, udah jangan dibahas.”
“Hello, gw denger loh,” sahut Wildan.
“Lu tidur aja, Dan! Jangan dengerin kita,” balas Hendra.
“Kalau gak mau kedengeran ngobrolnya di luar.”
“Jahat bener, Mir. Kita diusir.”
“Mangkanya lu diem, Hendra,” balasku masih menatap layar laptop.
“Ya udah deh.”
Beberapa saat kemudian ....
“Berisik ih, gw mau tidur,” protes Wildan.
Aku dan Hendra kebingungan. Sejak tadi kami sibuk dengan kegiatan masing-masing. Tidak mengobrol sedikit pun.
“Kita daritadi diem aja, Dan,” ucapku.
“Jangan bohong, orang gw denger tadi ada yang ketawa.”
“Beneran bukan kita,” balas Hendra.
“Terus? Siapa?”
“Siapa, Mir?”
“Itu, tadi Hendra malah ngomongin mereka. Jadi mereka datang.”
“Mereka?” tanya Wildan.
“Oh ... bocah-bocah yang di taman tadi. Lah katanya udah dilarang masuk sama Si Tebo.”
“Bocah-bocah apaan sih, Hen.” Wildan penasaran.
“Katanya gak mau ngomongin gituan.”
“Udah terlanjur, daripada ntar gw mati penasaran.”
“Bentar gw cari gambarnya.” Jemari Hendra menari-nari di atas ponsel pintarnya. Sepertinya dia sedang mengetik sesuatu.
“Nah kaya gini!” Hendra menunjukan sebuah foto yang diambilnya dari google.
“Apaan itu? Cosplay?”
“Ini namanya, Boneka Mampang. Lu liat kepalanya gede banget kan?”
“Huuh.”
“Nah mirip sama yang tadi datang. Bentuknya ada yang begitu.”
“Dih. Kok begitu, Mir?” tanya Wildan.
“Hadeh malah nanya ke gw.”
“Tau nih, Amir gak mau ngasih tau.”
“Bukan gak mau, tapi gw bener-bener kagak tau. Dan males nyari tau.”
“Cari tau lah, Mir. Kasian nanti temen kita mati penasaran.”
•
Aku pun mulai mempertajam penglihatanku. Hal yang pertama aku lakukan adalah mencari keberadaan Si Tebo. Genderuwo itu entah pergi ke mana, kok bisa-bisanya anak-anak itu dibiarkan masuk ke kamar Wildan. Dalam bentuk astral, aku memergokinya sedang berduaan dengan seorang suster.
“Parah ya! Lu malah pacaran,” ucapku mengagetkannya.
“Eh maaf, Mir. Kenapa ya?”
“Tuh anak-anak masuk kamar.”
“Dasar anak-anak bandel, nanti saya pites satu-satu.”
“Eh, Bo. Lu tau kagak tuh anak-anak kenapa bisa begitu?”
Suster itu menengok ke arahku. Setengah wajahnya rusak penuh dengan belatung.
“Mereka itu hanya korban,” ucap Suster itu.
“Korban?”
“Korban kebiadaban ibunya. Mereka ditumbalkan sejak masih dalam kandungan. Janin-janin itu dikeluarkan secara paksa dengan bantuan seorang suster. Lalu diberikan pada seseorang, sebagai mahar untuk praktik ilmu hitam.”
“Pesugihan?”
“Iya. Mereka tidak sadar. Di dunia kami, janin-janin itu bisa bertumbuh besar menjadi seorang anak. Namun bentuknya tidak sempurna.”
“Ih kamu tau aja,” ucap Si Tebo sambil mengelus rambut Suster itu.
“Aku sudah lama di sini,” balas Suster itu dengan senyum manja.
“Ya Ampun, ganjennya,” gumamku. Daripada memperhatikan dua makhluk aneh ini memadu kasih. Lebih baik aku kembali ke kamar.
“Sudah ya, gw balik dulu, Bo. Terimakasih penjelasannya, Sus.”
“Sama-sama.” Suster itu tersenyum. Senyum lebar hingga merobek pipinya. Belatung yang menggantung di pipinya pun berjatuhan.
“Oke, Mir. Nanti saya urus anak-anak itu,” balas si Tebo sambil terus menatap Suster yang menurutnya cantik.
“Jangan sampai menyakiti mereka, kasian,” pesanku.
“Tidak, tenang saja.”
•
“Udah tau, Mir?” tanya Hendra ketika melihatku membuka mata.
“Udah.”
“Jadi kenapa bisa begitu?”
“Itu janin yang dijadikan tumbal pesugihan. Qorinnya tertinggal di sini dan tumbuh jadi anak yang bentuknya abnormal begitu.”
“Oh ... begitu. Akhirnya gw bisa tidur dengan tenang,” ucap Wildan kembali menutup matanya.
“Tapi ‘Boneka Mampang’ itu gak jahat kan?” tanya Hendra.
“Boneka Mampang?”
“Bocah-bocah.”
“Oh ... maaf belum terbiasa sama nama itu."
“Kayanya kagak jahat, paling cuman ngajak maen aja.”
Si Tebo tiba-tiba muncul di pojokan kamar. Hendra sempat tersentak kaget, melihat kehadiran Genderuwo sok tampan itu.
“Sudah beres, Mir.”
“Kamu apakan mereka?”
“Saya kurung di tempat yang paling ramai.”
“Tempat paling ramai?”
“Tempat yang banyak mayat itu. Di dalam sangat ramai. Jadi saya titipkan saja mereka pada penjaga di sana. Seorang wanita cantik. Namun hanya kepalanya saja, hahahaha ....”
“Jangan ketawa, Bo! Kalau ada yang dengar bisa gawat.”
“Maaf saya masih sering lupa.”
“Sudah, sana pergi pacaran sama suster tadi.”
“Saya sudah putus dengannya.”
“Cepet amat.”
“Suster di ruangan pojok sana jauh lebih cantik. Tapi dia sedikit kaget ketika saya berdehem di kamar mandi, sampai lari tunggang langgang.”
“Hah? Maksudmu ...?”
“Saya pergi dulu ya, kasian dia sedang menangis.”
Aku baru paham dengan ucapannya, ternyata Suster yang dimaksud itu Suster beneran alias manusia.
“Hey, Tebo! Kalau sampai kamu menakutinya. Aku akan menyuruh Si Hitam mengurungmu di dalam lemari,” teriakku ketika melihatnya menembus tembok menuju ruangan pojok.
“Tidak, Mir. Aku hanya ingin melihat wajahnya saja,” sahutnya.
Aku masih terjaga sambil membaca satu demi satu Slide untuk bahan kuliah, lusa. Hendra meminta izin tidur duluan, di atas kasur lipat yang ada di ruangan.
Sepanjang malam, kondisi kamar sudah aman. Nenek penghuni kamar mandi pun tidak berani masuk ke dalam. Wildan bisa tidur dengan nyenyak.
Rasa kantuk mulai menyerang. Kumatikan laptop, lalu merebahkan diri di atas sofa. Menutup mata hingga terlelap. Tidur.
SEKIAN
Saya Hanya Ingin Sehelai Benang
Saya Hanya Ingin Sehelai Benang. “Malam jumat gini, enaknya ngapain ya, Mir?” tanya Hendra. “Gw tau maksud lu, mending ngerjain tugas trus tidur,” balasku. “Yah ... bentar doang. Nanti gw traktir makan lagi deh.” “Traktir makan? Gw ikut dong,” sahut Wildan. “Beuh, cepet bener lu balesnya, Dan. Yakin lu mau ikut?” ucap Hendra. “Makan? Hayo!” “Sebelumnya jalan-jalan dulu ya.” “Kemana?” “Ke Rumah Kosong deket sini.” “Ih ... males banget.” “Katanya tadi mau. Lu mau gak, Mir?” tanya Hendra. “Makananya apa dulu nih?” balasku. “Hmm ... American Favourite Large gimana?” “Okelah, dah lama gak makan pizza.” “Lu ikut gak, Dan? Daripada di kosan sendirian.” “Ya udah gw ikut, sekali ini aja ya.” “Nah lumayan ada tumbal,” ucapku. * Tempat penelusuran kali ini tidak terlalu jauh. Letaknya hanya ada di ujung jalan. Tidak butuh waktu lama, kami bertiga pun sudah sampai. Sebuah rumah kosong yang tidak terlalu besar. Sebagian atapnya sudah rusak. Kabarnya rumah ini sudah tidak pernah dihuni sejak tahun 90-an. Entah kenapa, sampai sekarang dibiarkan begitu saja. Padahal jika dilihat posisinya di pinggir jalan, harusnya menjadi lokasi yang lumayan strategi. “Screening, Mir!” Sebelum masuk, Hendra memintaku untuk mengecek makhluk apa aja yang ada di sana. Aku menutup mata, melihat suasana rumah itu melalui mata batin. “Kebanyakan cewe alay, malesin banget dah,” ucapku ketika melihat banyak Kuntilanak yang menghuni rumah kosong itu. “Ada Poci sama Genderuwo, standar semua sih, Hen. Gak ada yang aneh-aneh,” sambungku. “Menurut lu standar, Amir!” ucap Wildan ngegas. “Yuk masuk!” Seperti biasa, aku harus berjalan paling depan. Setidaknya membuka jalan untuk yang lain. Takut tiba-tiba ada yang muncul mendadak, bisa bahaya di tempat agak gelap begini. Aku masuk ke dalam rumah, sambil menyenter setiap sudut ruangan dengan ‘flashlight’ ponsel. Mungkin dulunya ruangan ini dipakai untuk ruang tamu. Jelas terlihat dari sisa-sisa sofa yang sudah hancur. “Engap ya.” Hendra mulai merasakan sesak. “Iya, udah mulai rame soalnya, pada ngeliatin,” balasku. “Dan? Lu kagak ngerasa apa-apa?” tanya Hendra. “Kagak.” Kami bergeser, masuk lebih dalam. Ada dua buah ruangan yang berdempetan. “Liat sana, Mir!” pinta Hendra. “Gw mulu.” Aku berjalan perlahan, lalu masuk ke dalam ruangan itu. Ruangannya benar-benar kosong. “Sini aja, lebih aman.” Tak lama Hendra dan Wildan ikut masuk ke dalam ruangan. “Beda ya suasananya. Pengapnya langsung ilang, cuman agak panas,” ucap Hendra. “Di luar, lebih banyak Cewe Alay yang nonton. Mereka gak berani masuk sini, soalnya tuh di pojok ada sesepuh,” jelasku. “Sesepuh apaan?” tanya Wildan. “Bentuknya sih gede, mirip Genderuwo tapi bukan Genderuwo.” “Jadi bingung gw. Maksudnya gimana?” tanya Hendra. “Kayanya bentuk aslinya bukan begitu, cuman menyerupai Genderuwo.” “Oh, terus sekarang dia lagi ngapain?” “Lagi liatin Wildan.” “Loh kok gw?” “Abisnya lu nyorot muka dia, silau katanya.” “Oh ya maaf, pan gw kagak tau.” Wildan langsung menyorotkan ‘flashlight’-nya ke sudut lain. “Terus ada apa lagi, Mir?” tanya Hendra. “Tuh di jendela, ada yang lagi berdiri, ngeliatin kita.” “Wujudnya?” “Permen Sugus.” “Apaan tuh?” “Pocong, Wildan.” “Ih ....” Wildan langsung memalingkan wajahnya. * “Mau masuk lebih dalem? Apa sampe di sini? Capek gw kalau lama-lama,” ucapku. “Ruangan sebelah lagi aja, Mir,” pinta Hendra. Kami pun berpindah ke ruangan sebelah. Suasananya lebih dingin dan kelam. Pasti pernah ada tragedi memilukan sebelumnya. Cuman aku sedang hemat energi, tidak mau melihat flashback-nya. “Gila, langsung merinding gw,” ucap Hendra. “Sama.” Wildan juga merasakan hal yang sama. Mau tidak mau aku tetap harus mencari sumber energi negatif ini. Kuedarkan pandangan, melihat setiap sudut ruangan dan juga plafon yang bolong. “Oh ....” Aku berhasil menemukan sumbernya. “Apa, Mir?” tanya Hendra. “Dan, lu mau coba ngerasain gak?” “Enggak deh, Mir. Serem.” “Ngerasain doang, bukan ngeliat.” Aku mencoba meyakinkannya. “Coba aja, Dan. Gw juga udah mulai sensitif nih karena sering-sering penyelusuran.” “Hmm ... janji ya gak kenapa-napa.” “Aman. Tutup mata lu!” Aku memegang pundaknya, untuk membuka sedikit mata batinnya. “Lu ngerasain apa, Dan?” “Gak ngerasain apa-apa.” Aku membukanya sedikit demi sedikit, hanya sebatas untuk merasakan tidak untuk melihat. Khawatir Wildan akan trauma ketika melihat wujudnya. “Sekarang?” “Dingin, Mir.” Aku buka sedikit lagi. “Kok dada gw sesek ya,” ucap Wildan. “Ok, sip, buka matanya.” Wildan membuka matanya. “Udah segitu aja, kalau lagi takutnya nanti kaget liat dia ada di depan muka lu.” “Parah, si Amir,” ucap Wildan kesal. “Sosok apan sih, Mir?” tanya Hendra. “Cewek gak pake baju.” “Beneran? Tau gitu lanjut tadi,” ucap Wildan. “Wah mulai songong,” balas Hendra. “Becanda, Hen.” “Itu gak pake baju doang, apa semua?” tanya Hendra. “Telanjang aja gitu.” “Ya ampun, kok bisa sih?” “Kalau kata Si Kingkong sih, itu tandanya dia meninggal gak bawa apa-apa.” “Maksudnya?” “Kasarnya, dia mati bunuh diri. Jadi semua amalan dunianya hangus.” “DISINI?” Wildan meninggikan suara. “Iya, cuman gak di ruangan ini, tapi di ruangan yang agak belakang.” “Balik yuk, gw dah mulai merinding terus ini,” keluh Wildan. “Ya udah deh. Pizzanya medium ya, kan cuman bentar.” “Bebaslah, daripada lama-lama di sini.” “Cabut deh, Mir,” ajak Hendra. “Oke, siap.” * Di luar rumah, aku merasakan ada yang aneh dengan Wildan. Dia terlihat lebih murung. “Napa lu, Dan?” Aku menepuk pundaknya. “Perasaan berat banget pundak gw.” Aku langsung memfokuskan pandangan ke tubuh Wildan. Benar saja, sosok wanita tadi ternyata ikut bersamanya. “Dia ikut ternyata.” “Siapa, Mir?” tanya Hendra. “Cewe yang tadi.” “Usir, Mir! Asli dada gw mulai sesek nih,” ucap Wildan. “Bentar gw pengen tau maksudnya apa ikut sama lu.” “Sompral sih lu, Dan,” ejek Hendra. Sosok itu sedang berusaha masuk ke dalam tubuh Wildan. Sejak tadi memang dia ingin sekali berkomunikasi denganku, tapi selalu aku tolak. “Kok gw sedih banget ya.” Sosok itu mulai memberikan perasaannya ke Wildan. Tiba-tiba Wildan menangis. “Nah loh, anak orang nangis,” ucap Hendra. “Pegangin, Hen! Bukan Wildan itu.” Sosok itu berhasil masuk ke dalam tubuh Wildan. Seperti aku lupa menutup mata batinnya rapat-rapat. Dia masih saja menangis. “Kenapa ngikut sama dia?” tanyaku. Wanita itu tidak menjawab, malah terus menangis. “Salah kamu sendiri, kenapa lakuin itu. Sekarang nyesel kan?” “Tolong saya ....” Wanita itu sudah mau berbicara. “Saya tidak bisa menolong kamu, lebih baik pergi. Jangan ganggu anak ini lagi.” “Dingin ... tolong saya.” “Salahmu sendiri, hanya gara-gara lelaki, sampai nekat bunuh diri.” “Saya menyesal, tolong saya.” Wanita itu terus mengiba. “Sudah terlambat, sekarang kamu tanggung akibatnya.” “Tolong beri saya pakaian. Dingin ....” “Enggak!” “Beri saya sehelai benang saja, setidaknya bisa mengurangi rasa dingin ini.” Sehelai benang ini merujuk ke satu ucapan doa untuknya. Itu bisa sedikit menghangatkan tubuhnya. “Ini sudah takdirmu dan saya tidak mau ikut campur.” “Tolong ....” Sosok itu kembali menangis, berharap aku membantunya. “Kamu mau gak dingin kan?” Aku sentuh pundak Wildan, lalu mulai merapal doa. Sosok itu pun menjerit kesakitan. “Panas ... panas ... bukan ini maksud saya!” Sosok itu marah. “Keluar atau saya bikin gosong badanmu!” Sosok itu tertawa. Begitulah makhluk labil, sebentar menangis sebentar tertawa. Aku sudah benar-benar hapal dengan tingkahnya. Datang meminta belas kasihan. Eh ujung-ujungnya, ketauan belangnya. “Hahaha ... saya mau ikut sama dia.” “Oke ....” Aku kembali merapal doa. “Panas ... panas ... argh ...!” Sosok itu keluar dari tubuh Wildan. Wildan langsung terduduk, tubuhnya terlihat lemas sekali. Sampai tidak kuat untuk berdiri. Aku dan Hendra terpaksa memapahnya kembali ke kosan. Daritadi Wildan hanya diam saja, tidak berbicara sepatah katapun. Aku jadi khawatir dengannya. Setibanya di kamar kosan, Wildan langsung dibaringkan di tempat tidur. “Ambil minum, Hen!” perintahku. Dengan cepat Hendra menuangkan air ke dalam gelas. “Minum dulu, Dan.” Aku menyodorkan gelas berisi air itu padanya. Wildan bangkit dan meneguknya sampai habis. “Lagi!” pinta Wildan. “Haus, Mang?” ejek Hendra sambil menuangkan air ke gelasnya. Kembali Wildan meneguknya. “Udah ya, gak lagi-lagi gw ikut sama kalian,” ucap Wildan marah. “Lu pasti iseng kan, Mir? Sengaja banget biar gw kemasukan,” sambungnya masih dengan emosi membara. “Kagak, Dan. Sumpah gw lupa nutup rapet tadi,” elakku. “Jangan marah dong, Dan,” rayu Hendra. “Gimana kagak marah sih, ngeliat sosok begituan.” “Loh lu liat sosoknya?” tanyaku. “Iya ... lidahnya ngejulur gitu, ampe air liurnya netes-netes. Asli gw ampe syok banget, Mir.” Emosi Wildan sudah mulai mereda. “Emang gitu, Mir?” tanya Hendra. “Huuh, gara-gara kemasukan, jadi gak sengaja liat sosoknya.” “Ya udah sih, Dan. Pan lu sendiri yang pengen liat tadi.” Hendra tertawa meledek. “Pokoknya harus ada kompensasinya, titik!” “Gw tambah Meat Lover Medium buat lu sendiri deh,” tawar Hendra. “Asik.” Wildan pun tersenyum. “Modus banget,” ucapku. “Yee ... biarin.” Wildan pun tertawa ngakak. SEKIAN
Senin, 02 Agustus 2021
Maneki Neko Dunia Lain: Lambain Tangan Kuntilanak
Lambaian Tangan Kuntilanak Di Depan Warung Makan (‘Maneki Neko’ Versi Dunia Lain) Hari ini, untuk menghibur Wildan yang baru pulang dari rumah sakit. Aku dan Hendra mengajaknya jalan-jalan ke salah satu tempat wisata di jalur Pantura. Kali ini, Hendra yang menyetir, sedangkan aku duduk di sampingnya. Sudah satu setengah jam perjalanan. Mobil melaju melewati jalan yang sedikit bergelombang. Di kanan kiri banyak juga mobil berukuran besar yang berjalan melambat. Begitulah serunya ketika melewati jalur Pantura. “Lu capek gak?” tanyaku setelah melalui jalan yang mirip seperti jalur ‘offroad’ itu. “Emang lu mau gantiin?” Hendra balik bertanya. “Kagak sih, cuman basa-basi doang.” “Ish.” “Emang lu, mau digantiin, Hen?” tanya Wildan yang lagi tiduran di kursi tengah. “Jangan ah, lu kan masih sakit.” “Ya, gw juga kagak mau sih.” “Ish. Samanya lu berdua.” Mobil terus melaju. Kira-kira satu jam lagi mungkin sudah sampe ke tempat tujuan kita. “Rame ya tiap lewat jalan ini,” ucap Hendra. “Fokus, Hen. Banyak mobil gede.” “Iya, gw cuekin kok. Cuman berisik aja gitu banyak yang teriak dan nangis.” “Apa yang teriak?” tanya Wildan. “Tuh ‘orang-orang’ di tengah jalan.” Wildan melihat ke luar mobil. “Gak ada orang ah.” “Gak usah pura-pura polos dah ah. Lu tau maksud gw kan.” “Oh, ‘orang’ dari alam lain.” “Iye.” “Aman, gw kagak liat.” “Lu mau liat emang, Dan?” tanyaku. “Kagak, ntar lu bikin gw kesurupan lagi.” Aku dan Hendra pun tertawa. * Sudah agak dekat dengan tempat wisata. Mulai banyak penjual oleh-oleh dan warung makan berjejer di pinggir jalan. “Itu apa sih, Mir?” tanya Hendra. “Apaan?” “Itu coba lu liat ke kanan jalan. Samar-samar kok kaya ada yang berdiri. Tapi tipis banget kagak jelas.” “Orang?” tanya Wildan. “Bukanlah, masa orang tipis plus transparan.” “Oh itu ... coba lu pinggirin dulu mobilnya. Ini lu perlu tau dan ngerti, Hen.” Hendra meminggirkan mobil, di sebuah lahan parkir, tepat di seberang tiga warung makan yang berderet rapih. Menu yang dijual pun sama. “Buka kaca sampingnya!” perintahku pada Hendra. Kaca mobil di samping kanannya mulai turun perlahan. “Duh gak bisa apa sehari gak bahas beginian,” keluh Wildan. “Lu juga musti tau, Dan. Soalnya banyak yang pake beginian.” “Fokus, Hen.” Hendra memicingkan mata melihat deretan warung makan itu. “Kuntilanak? Siang-siang ngapain?” “Tangannya coba perhatiin!” Hendra kembali menoleh ke sana. “Ngelambai-lambai gitu.” “Nah coba itung berapa banyak.” “Gak ada kerjaan amat, siang-siang ngitung Kuntilanak. Nasib punya temen eror,” keluh Wildan lagi. “Banyak, Mir. Ada yang berdiri di depan warungnya. Ada yang duduk di atas atap. Emang itu ngapain sih, ngelambaiin tangan semua. Kaya dapet mahkota Miss Universe aja.” “Mau tanya langsung apa gimana?” tawarku. “Ogah, lemes gw ntar. Dah tau gw yang nyetir.” “Hahaha, ya gw juga males kok, Hen.” “Jadi intinya apa sih? Daritadi gw nungguin kagak dijelasin,” ucap Wildan. “Lu tau ‘Maneki Neko’?” “Apaan tuh?” “Itu HP dipake Wildan, jangan cuman jadi pajangan. Search gih!” Wildan menatap layar ponsel dan mulai mencari info tentang ‘Maneki Neko’. “Oh patung kucing yang ngelambai-lambai gitu. Katanya bisa membawa keberuntungan. Untuk menarik pembeli.” “Nah fungsinya mirip, cuman ini versi kearifan lokal. Jadi bentuknya Kuntilanak.” “Maksud lu kaya penglaris gitu?” tanya Hendra. “Yap, mereka ngasih sugesti ke orang-orang yang lewat supaya mampir dan makan di sana. Kalau yang bisa liat sih pasti ogah. Siapa juga yang mau makan barengan rombongan Kuntilanak kaya gitu.” “Ya lu enak Amir bisa liat. Lah gw?” ucap Wildan. “Terus caranya biar gak terpengaruh sugestinya gimana?” tanya Hendra. “Pertama pikirannya jangan kosong. Sepanjang jalan kalau bisa terus dzikir. Selain menghalangi dari lambaian tangan Jin Penglaris. Bisa juga mencegah dari incaran Jin Pesugihan.” “Oh begitu.” Tut! Bunyi klakson mobil di belakang kami. “Ada mobil mau parkir tuh,” ucap Wildan. “Yuk lanjut.” Aku meminta Hendra melanjutkan perjalanan. “Gara-gara liat begituan, jadi laper nih gw.” “Ya entar cari aja pas udah sampe di tujuan.” “Kalau pake begituan semua gimana?” tanya Wildan. “Lu beli roti aja di supermarket, Dan.” “Dih.” SEKIAN
Menabur Garam di Atas Luka
Menabur Garam di Atas Luka. Sebagai penjual pecel sayur, rutinitasku selalu sama setiap harinya. Sebelum subuh, aku harus menimba air untuk keperluan mandi anak-anak. Kemudian, menyiapkan pakaian mereka dan menulis daftar belanjaan sambil menunggu adzan subuh. Setelah sholat subuh, aku berangkat ke pasar, untuk membeli bahan dagangan. Berjalan menyelusuri jalan kampung yang berbatu dan licin karena hujan semalam. Udaranya sejuk sekali. Matahari pun baru bangun dari tidurnya. Aku terus berjalan, hingga ke jalan utama yang beraspal. Lalu berdiri di pinggir jalan, menunggu angkutan umum yang memiliki rute melewati pasar. Tidak lama kemudian, angkutan umum (angkot) berwarna kuning berhenti di hadapanku. Sepertinya angkotnya baru keluar, soalnya tidak ada penumpang lain di dalam. Aku pun naik dan duduk di dekat jendela yang terbuka. Kupandangi jalan raya yang masih sepi. Dari jendela, angin mulai bertiup sangat kencang, menandakan laju angkot yang semakin kencang. Kututup jendela, kemudian mengambil catatan belanjaan dari dalam kantong celana. Mengecek satu persatu daftar belanjaan, agar tidak ada yang terlewat. Tidak ada penumpang lain yang naik, sampaiku tiba di tempat tujuan. Kondisi pasar selalu ramai setiap paginya. Aku berjalan menuju penjual sayur langganan. Serta membeli bahan-bahan untuk membuat sambal kacang dan bakwan. Setelah itu langsung pulang ke rumah. * Pukul enam pagi, aku sudah kembali ke rumah. Kedua anakku sudah bersiap-siap berangkat ke sekolah. Anak pertamaku, Rayhan, duduk di kelas tiga SMP. Sedangkan anak kedua, Abdul, baru kelas 4 SD. Aku memberikan sepotong roti dan segelas susu untuk mereka sarapan. Lalu memberikan uang jajan. Walaupun jumlahnya tidak besar, tapi mereka sama sekali tidak pernah protes. Aku pergi ke dapur untuk mempersiapkan dagangan. Mulai dari merebus sayuran, menggoreng kacang dan membuat adonan bakwan. Sebelum berangkat, anak-anak menghampiriku di dapur. Lalu mereka mencium tanganku. Entah kenapa, hari ini aku ingin memeluk mereka. Kupeluk mereka satu persatu. Nampak sekali wajah mereka heran dengan tingkahku ini. Lalu mengantar mereka sampai ke pintu depan. Mereka pun pergi, berjalan menjauh dari rumah. Mataku terus tertuju pada mereka, sampai hilang dari pandangan. Aku duduk di teras dengan pikiran menerawang jauh, membayangkan masa depan anak-anakku. Ada perasaan gembira sekaligus cemas, ketika memikirikan Rayhan. Gembira, karena sebentar lagi dia masuk SMA, berharap nasibnya bisa jauh lebih baik dariku. Cemas, tentang biaya sekolahnya nanti, walaupun ada yang bilang biaya masuknya sudah gratis. Semenjak kepergian suamiku, setelah lebih dulu menghadap Allah. Aku berusaha banting tulang untuk memenuhi semua kebutuhan anakku. Setiap hari, harus berjualan pecel, keliling dari kampung ke kampung. Tak terasa butiran hangat mulai jatuh dari sudut mataku, mengingat perjuanganku selama ini. Kuusap air mata, lalu kembali ke dapur. * Aku mulai berjualan, mengelilingi kampung. Beberapa orang sudah setia menunggu kehadiranku setiap paginya. Aku terus berjalan, menjajakan dagangan, sampai di perbatasan kampung. Sebuah jalan raya yang lumayan besar. "Mbak Sari ... pecel dong," panggil seorang pelanggananku dari sebrang jalan. "Iya Mas," sahutku sambil menyebrang jalan. Ketika aku menyebrang, tiba-tiba ada motor yang melaju sangat kencang. "Mbak, awas!" Terdengar suara teriakan seseorang memperingkatkanku. Sayang, semuanya sudah terlambat. Tubuh mungilku sudah melayang, hingga mendarat di aspal jalan. Aku tergeletak, bersimbah darah. Tubuhku seakan remuk. Kepala pun terasa sakit sekali. Aku mencoba menggerakan tubuh, tapi tidak bisa. Kaki mulai terasa dingin. Sayup- sayup terdengar seseorang memanggil namaku. Namun, rasa dingin ini terus menjalar ke seluruh tubuh. Aku mulai kesulitan bernafas. Tiba-tiba semuanya menjadi gelap gulita. * Ada cahaya terang menyorot kedua mata. Aku membuka mata, tidak ingat apa yang terjadi. Tersadar, posisiku sudah berdiri di pinggir jalan. Terihat kerumuman orang sedang mengelilingi sesuatu. Aku berjalan mendekat. Kulihat tubuh seseorang tegeletak dan ditutupi koran. Mencoba bertanya pada orang-orang, siapa yang tertabrak, tapi tidak ada jawaban. Kulihat sebuah sepeda motor setengah rusak, terparkir di pinggir jalan. Di dekatnya ada seorang pria yang terbaring di trotoar. Kulihat sekelilingnya, banyak sayuran tercecer di tengah jalan, serta tumpahan sambal kacang. Bukannya itu daganganku? Mobil ambulan pun datang, mengangkat tubuh orang itu. Tak sengaja koran yang menutupi wajahnya terbang teriup angin. Itu aku! Ya ... itu aku. Apakah aku sudah mati? Aku sangat terkejut, tidak bisa menerima semua ini. Rasanya lemas sekali, air mata mengalir. Lalu terduduk lesu, menangisi nasib yang malang ini. Ada rasa marah dan dendam yang tumbuh di diriku. Aku lihat orang-orang sedang membersihkan noda darah di jalan. Menyiramnya dengan air dan menaburinya dengan tanah. Sekarang, sekujur tubuhku mulai terasa sakit. Darah pun mengalir dari kepalaku, membahasi sebagian wajahku. Bahkan sudah mati pun, rasa sakit ini masih belum juga hilang. Aku berusaha sekuat tenaga, mendirikan badanku. Berjalan pulang menuju rumah. Darah yang terus menetes, membasahi setiap langkahku, sampai di depan rumah. Kulihat kursi-kursi plastik berjejer, sebagiannya sudah diduduki oleh para tetangga. Aku berjalan, masuk ke dalam rumah, melihat ragaku sudah dibaringkan di ruang tamu, lengkap dengan kain putih yang menutupinya. Kulihat sekeliling, tapi tidak bisa menemukan keberadaan anakku. Kemana mereka pergi? Apa mereka masih di sekolah? Di antara suara orang-orang yang sedang membaca doa, aku mendengar suara tangis anakku. Kudatangi sumber suara itu, yang ternyata berasal dari dalam kamar. Abdul sedang menangis, memeluk guling di tempat tidur. Di sampingnya ada adik kandungku, berusaha menenangkannya. Ke mana Rayhan? Aku datangi kamarnya. Dia sedang duduk di meja belajarnya. Tatapan matanya kosong. Sesekali terlihat air mata jatuh dari pipinya. Tangan kanannya memegang sebuah foto kami bertiga di sebuah danau. Aku sama sekali tidak mengingat momen itu. Aku mendekat, memeluknya dari belakang. "Kaka yang kuat ya," bisikku, berharap dia dapat mendengarkan suara lirihku ini. Adikku memanggil Rayhan untuk ke ruang tamu, aku pun mengikutinya dari belakang. Ragaku sudah diangkat, dipindahkan ke dalam keranda. Beberapa orang mulai mengangkat kerandanya, ke luar rumah. Rayhan pun ikut mengiringi kepergianku menuju tempat peristirahatan terakhir. Aku tetap berdiri di ruang tamu. Lalu pergi ke kamarku menemani Abdul yang masih menangis. Berbaring di sampingnya, mengelus-elus rambutnya dan berusaha mengusap air matanya. Ibu! Ibu! Dalam tangisnya, Abdul terus memanggilku. Aku terus menemaninya, sampai dia tertidur. * Tiba-tiba, kepalaku terasa sangat sakit. Rasa sakit itu kini berubah menjadi perih. Tak kuat, aku pun menjerit kesakitan. Sebuah bayangan muncul. Sekelompok pemuda sedang menaburkan serbuk berwana putih (garam) di atas noda darah yang masih tersisa di jalan. Mataku memerah, melihat perbuatan mereka. Apa salahku sampai mereka menyiksaku seperti ini? Kuperhatikan wajah mereka baik-baik. Besok malamnya kudatangi mereka satu persatu-satu. Salah satu dari mereka lari tunggang-langgang, ketika melihat kehadiranku di dalam kamarnya. Yang lainnya, sampai jatuh pingsan ketika aku muncul di hadapannya. Aku menampakan diri dengan wajah yang paling menyeramkan, dengan baju berlumuran darah. Setiap malam, aku menangis di depan rumah mereka, meminta pertanggung jawaban atas perbuatannya. Bukannya menyesal dan meminta maaf, mereka malah memanggil seorang kakek tua berbaju hitam, untuk mengusirku dari lingkungan mereka. Bodoh, mereka kira itu berhasil. Setelah kakek tua itu pergi, aku datangi salah satu dari mereka. Kududuki dia ketika tidur, hingga kesulitan bernafas. Lalu kubanting pintu kamarnya, sampai dia terkencing-kencing di balik selimut. Lalu, tertawa di dekat telinganya. Rasanya puas sekali. Amarahku memuncak, ketika mereka memanggil seseorang berbaju putih. Bukannya menolongku, orang itu malah menambah rasa sakitku. Badanku terasa sangat panas dengan doa-doa yang dia ucapkan. Setelah malam itu, dendamku semakin membara. Kali ini tidak hanya pada pelaku yang menaburkan garam, tapi semua warga di kampung ini terkena imbasnya. Tengah malam, kuketuk pintu rumah mereka satu persatu. Kadang aku hanya berdiri di dekat jendela kamar yang terbuka, atau hanya duduk diam di meja makan. Itu saja sudah membuat mereka menjerit ketakutan. Rasa takut mereka itu membuatku semakin kuat. Kini aku bisa melempar perabotan dapur mereka. Aku juga bisa mendorong mereka hingga jatuh tersungkur. Orang-orang yang melewati tempat kecelakaan pun tidak luput dari terorku. Aku sering berdiri dan menangis di sana, sehingga membuat orang-orang takut melewati jalan itu. Sampai aku bertemu kamu .... * Kamu tidak sengaja melihatku yang sedang berdiri di tengah jalan. Saat melihatku, wajahmu terlihat kaget, tapi tetap berlalu melewatiku. Aku ikuti sampai ke rumahmu, tapi tidak dapat masuk ke dalamnya. Kutunggu kamu di luar rumah, sambil terus menangis dan meminta tolong. Kamu pun akhirnya ke luar rumah dan mencoba mengusirku. Namun, aku tidak pergi kemana-mana, sampai kamu mau menolongku atau sekedar mendengar keluh kesahku. Kamu pun menyerah, lalu mengizinkanku masuk ke kamar. Pada saat itulah aku menceritakan semua cerita ini, berharap kamu bisa menolongku. Kamu meminta waktu beberapa hari, untuk memberi keputusan terakhir. Ketika aku sedang duduk, menangis di tempat kecelakaanku. Tiba-tiba, kamu memanggilku ke rumahmu. Aku lihat di sampingmu sudah ada seorang kakek berbaju putih, membawa tongkat bercahaya. Kakek tua itu tersenyum melihatku, "Saya bisa menyembuhkan lukamu, tapi dengan satu syarat," ucap Kakek itu. "Apa syaratnya Kek?" tanyaku. "Berhentilah menakut-nakuti warga." "Mereka sudah jahat, Kek. Apa salahku sampai mereka berbuat seperti ini." "Kamu harus memaafkan mereka." "Lalu bagaimana dengan orang yang menabrakku." "Apakah kamu tau atau ingat dengannya?" "Tidak ... justru itu membuatku semakin tersiksa, karena ada rasa dendam yang tak tuntas." "Dia sudah mati, beberapa hari setelah kecelakaan itu. Itulah sebabnya kamu tidak akan pernah bisa menemuinya." "Sekarang ... aku harus bagaimana, luka ini masih terasa sangat perih. Aku sudah tak kuat." "Jika masih ada dendam kamu akan tetap seperti itu. Lebih baik ikut ke tempat saya, sampai bisa memaafkan perbuatan mereka." Aku pun mengangguk, menyetujui persyaratannya. Kakek itu berjalan mendekat, mengusap luka-lukaku. Tangannya hangat sekali. Perlahan-lahan, rasa sakit dan perih itu pun menghilang. Sebelum diajak pergi ke tempatnya, aku meminta izin untuk menemui anak-anakku untuk terakhir kalinya. Setelah itu, Kakek itu memindahkanku ke sebuah taman yang indah. Aku hanya duduk di bangku taman itu,menunggu waktunya tiba. Waktu di mana aku bisa berkumpul dengan anak-anakku. Pesanku. "Dibalik teror yang mengerikan, pasti ada yang tersakiti. Hanya kamu saja yang tidak menyadarinya." SEKIAN
Minggu, 01 Agustus 2021
Anak Kecil di Kuah Soto
Anak Kecil di Kuah Soto. Ting! Bunyi pesan masuk di ponselku. Kulihat ternyata ada pesan dari Wildan.
[Mir, Lu lagi kosong gak? Keluar yuk]
[Ke mana?]
[Jalan-jalan aja, bosen gw di rumah]
[Lu jemput gw ya]
[Di mana?]
[Kuburan]
[Hah?]
[Ya, rumah lah]
[Ok, gw datang bentar lagi]
Aku bangkit dari tempat tidur, lalu bergegas ke kamar mandi.
*
Sepuluh menit kemudian ....
Tet!
Tet!
Suara klakson motor matic terdengar di depan rumah.
"Bentar Dan, gw pake baju dulu," ucapku sambil berlari ke kamar, masih menggunakan handuk. Setelah mengenakan baju, aku langsung menghampirinya di depan.
"Mau kemana?" tanyaku.
"Keluar dulu lah, entar baru dipikirin kemana."
"Ya dah, deh."
*
Diantara teman yang lain, Wildan ini yang paling dekat denganku. Walaupun dia tau aku bisa melihat makhluk lain, tapi jarang sekali dia ingin tau tentang 'mereka'.
Sejujurnya, aku masih merasa bersalah tentang tragedi Nasi Goreng beberapa bulan lalu. Sampai detik ini dia sama sekali belum tau kalau yang dimakannya itu bukan Nasi Goreng. Yah ... tapi dia kelihatan sehat-sehat saja. Jadi lebih baik tidak tau.
*
Sepeda motor mulai melaju, meninggalkan perumahan menunju ke jalan utama.
"Mir."
"Oit."
"Laper gak, Lu?"
"Laper."
"Makan Soto yuk! Katanya ada tempat baru, terus rame banget."
"Dimana emangnya?"
"Itu di deket jembatan layang."
"Oh gas lah."
Wildan memacu motornya dengan cukup kencang, menuju Jalan Layang.
"Tuhkan rame."
Terlihat, sudah banyak motor dan mobil parkir di depan resto itu.
Wildan memparkirkan motornya, sedangkan aku mengambil nomor antrian meja.
"Dapet nomor berapa, Mir?" tanya Wildan.
"Nomor 17, katanya sih gak lama. Sekarang baru nomor 13."
"Sip, tunggu aja."
Kuedarkan pandangan mengamati setiap sudut resto. Desainnya terlihat apik, dengan ornamen khas jawa.
*
"Tujuh Belas!" teriak salah satu pelayan resto.
Aku dan Wildan yang sedang duduk di parkiran, langsung berjalan menghampirinya. Bahkan Wildan sampai belari, sepertinya dia tidak sabar mencicipi makanan di resto ini.
Kami pun diberi tempat duduk khusus berdua, di pojok kiri resto. Salah seorang pelayan meletakan menu makanan, lalu pergi lagi ke area dekat kasir.
"Lu mau makan apa Mir?"
"Bentar."
Aku masih serius melihat-lihat menu. Satu persatu halaman menunya kubuka, sampai di halaman khusus Soto. Mataku langsung tertuju pada Soto Babat Kambing.
"Hmm ... kayanya enak," pikirku.
"Jangan itu, yang lain aja," ucap suara di batinku.
"Sop Kaki Kambing," pikirku.
"Jangan ... yang lain aja." Masih suara yang sama.
"Soto Ayam," pikirku lagi.
Dug!
Kakiku terbentur meja.
"Napa Lu?"
"Gak."
Sebenarnya aku kaget, karena kepala Si Kingkong tiba-tiba muncul dari bawah meja.
"Yang lain," bisiknya.
Aku membuka lembaran lain, "SIOMAY," ucapku agak keras. Si Kingkong langsung mengancungkan jempolnya dan menghilang.
"Oke Siomay, minumnya?" ucap Wildan.
"Teh anget aja."
Wildan langsung mengangkat tangan, memanggil salah satu pelayan resto.
"Mbak ... satu Soto Daging, satu Siomay dan dua Teh Anget ya," ucap Wildan memesan makanan.
"Sotonya pakai Nasi?" tanya Si Mbak.
"Pake."
Setelah menulis pesanan di secarik kertas. Si Mbak itu pergi meninggalkan meja.
*
Beberapa menit kemudian, dua gelas teh hangat sudah ada di meja kami. Aku meminumnya sedikit, sambil mengedarkan pandangan.
"Perasaan gak ada yang aneh," ucapku dalam hati. Lantas, kenapa Si Kingkong tiba-tiba muncul dan menghilang?
Tidak lama kemudian, Soto dan Siomay sudah tersedia di meja. Tanpa aba-aba, Wildan langsung menyantap makanannya. Aku masih saja memikirkan kejadian tadi, sambil pelan-pelan memakan Siomay.
"Pasti ada apa-apa, gak mungkin dia tiba-tiba muncul," pikirku menerawang.
"Lu lama amat makan Siomay doang aja," ucap Wildan menghamburkan lamunanku.
"Eh ... Lu dah kelar."
Aku langsung menghambiskan Siomaynya, lalu minum.
Ohok!
Aku batuk, nyaris tersedak ketika Si Kingkong tiba-tiba sudah duduk di atas meja.
"Ikut ke sana," ucapnya sambil menunjuk ke arah kasir. Aku pun mengangguk pelan.
"Lu duluan aja Mir ke parkiran, gw yang bayar," ucap Wildan, lalu berdiri dan berjalan ke arah kasir. Tanpa sepengetahuannya, aku membuntutinya dari belakang.
"Lu ngapain dimari?" tanya Wildan yang baru sadar kalau aku ada di belakangnya.
"Ikut aja, pengen liat."
Dari depan kasir, aku bisa langsung melihat jelas area dapur. Padahal dapurnya terbuka, kenapa aku tidak memperhatikannya daritadi.
Mataku langsung fokus ke area dapur, khususnya panci besar dan panjang yang berisi kuah soto.
"Oh ... ngerti," gumamku pelan.
"Apa, Mir?"
"Udah bayarnya?"
"Udah."
"Yuk!" ajak Wildan.
"Bentar ...." Aku berdiri mendekat ke depan kasir.
"Mas ... itu Anak Kecil kasian banget direbus di kuah soto," ucapku pelan.
Si Mas penjaga kasir terlihat bingung dengan ucapanku. Belum sempat menjawab ucapanku. Aku langsung pergi meninggalkan resto itu.
*
"Anak Kecil apaan sih, Mir?" tanya Wildan, sebelum menaiki motornya.
"Itu ...."
"Itu apa?"
"Anak kecil buat kencingin kuah sotonya, biar enak," jelasku.
"Maksud, Lu? Restonya pake begituan."
"Huuh."
"Dih napa Lu gak bilang daritadi, kan gw dah terlanjur makan."
"Gw aja baru tau."
"Lah terus gimana nih gw?" tanya Wildan sambil memegang perutnya.
"Tenang ... gak bakal kenapa-kenapa kok."
"Ah ... Lu sih parah. Balik jalan kaki dah sana!"
"Ish ... gitu aja ngambek."
Dalam hati, tumben Si Kingkong lagi baik.
SEKIAN














